fabel KANCIL DAN BUAYA 2

Di sebuah hutan hiduplah si cerdik kancil dan buaya yang selalu ditipu oleh kancil.
Seperti biasanya, setelah kenyang menyantap makanan, si kancil selalu minum di sungai. ia melenggang santai menuju sungai sambil bersiul-siul. Pagi itu ia tampak ceria.
“Hari ini aku benar-benar puas ! aku kenyang setelah makan mentimun pak tani tolol itu. Masak, tanamnnya berkurang dia tidak tahu !” gumamnya dalam hati.
“Besok aku akan kesana lagi menyantap mentimun sekenyang-kenyangnya. Aku akan memilih yang masih muda. Sungguh nikmat mentimun muda itu.” Pikirnya.
Kancil tidak menyadari sepasang mata terus mengawasi gerak-geriknya. Tiba-tiba, cap ! kancil tersentak dari lamunanya. Si raja air telah menangkap kaki depannya.
“Kena kamu sekarang, penipu !” bentak buaya.
“Lo, kamu ini bagaimana sih ! saya justru mencari kamu kesana kemari, tetapi tidak ketemu. Ee……..tak tahunya malah disini !”
“Kamu tidak bisa menipuku, hai kancil licik !” bentak buaya.
Kancil memutar otak mencari cara untuk membebaskan dirinya dari cengakraman mulut buaya. Akhirnya, ia menemkan strategi yang jitu untuk mengelabui si raja air itu.
“Buaya, saya membawa kabar yang sangat menggembirakan buata kalimat semua !” bujuk kancil
“Kabar apa itu ?” Tanya buaya penasaran.
“Tenang, lepaskan dulu jepitanmu, baru saya ceritakan !” pinta kancil. “Tapi awas kalau menipuku lagi akan kuhancurkan kepalamu.” Ancam buaya.
“Begini ! hari ini sri baginda akan mengadakan syukuran. Ia bersyukur kepada yang maha kuasa karena telah diberi umur panjang. Saya mengemban amanatnya untuk mengundang kalian. Seisi penghuni hutan di undang dalam acara tersebut. Disana disediakan berbagai macam makanan dan minuman.” Betulkah itu ?” buaya penasaran.
“Betul makanan kesukaanmu banyak sekali disana. Untuk itu, agar semua kebagian, saya harus tahu berapa banyak temanmu.” “Ah, itu gampang, cil. Saya akan memanggil teman-teman disini.
“Baiklah kalau begitu kalian berbaris berjajar dari sini sampai tepi sungai sebelah sana. Nanti saya akan menghitung satu persatu agar saya bisa tahu jumlah kalian semua. Saya khawatir laporan saya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.” Buaya memanggil teman-temannya. Mereka berjajar sepanjang sungai, menghubungkan tepi yang satu dengan seberang sana. “Cepat,cil……….hitung ! hayo ! saya sudah lapar nih !” teriak buaya paling depan. “Beres !” kancil melompat di tepi sungai ke punggung buaya pertama sambil menghitung tu….wa…..ga…..pat…..
Akhirnya, ia sampai ke tepi seberang setelah tiba di seberang, kancil berujar “Selamat tinggal, sobat ! kalian telah menolongku menyeberangi sungai ini. Selamat berbarisnya dan berlapor-lapor, ya !”
“Sialan, kena tipu lagi tertipu lagi !” gerutu buaya-buaya itu. Akhirnya, si kancil terbatas dari bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya. Ia memang cerdik. Ia pandai menggunakan akalnya. Tidak berlebihan bila ia mendapat julukan si “CERDIK”.

DWI WINASTI
IIIB

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: