FABEL CINGBU, SI ANAK KUCING

seekor induk kucing, Mak cing, namanya mempunyai 4 ekor anak kucing. Tiga ekor mempunyai bulu yang sama dengan mak cing, yaitu belang-belang hitam putih. Hanya sau yang lain sendiri. Seluruh badannya ditutupi bulu abu-abu. Mak cing menamainya cingbu.
“Kalian harus bangga, lahir dari keluarga yang gagah,” kata Mak cing suatu hari. Tapi cingbu tidak setuju.
Mereka bukan apa-apa dibanding dengan singa misalnya, yang dikatakan raja seluruh hewan buas. Atau macan, yang dijuluki sebagai raja hutan. Atau si puma yang bisa berburu dari dahan kedahan. Atau si macan tutul yang perkasa.
“Yang seperti itulah yang pantas disebut keluarga kucing yang gagah,” pikir cingbu. Ia ingin seperti mereka.
“Kamu bukan mama saya,” katanya kepada mak cing. “Buktinya saya tidak mirip dengan kamu, juga anak-anakmu yang lainnya. Sebenarnya, saya ini anak siapa?” lanjutnya.
“Mama saya mungkin puma yang gagah. Kalau saya sudah besar, saya akan mencarinya. Lalu kami akan memanjat pohon bersama,” kata cingbu lalu berlari ke jendela dan mulai memanjat gordennya.
“Sudah! Jangan diteruska lagi! Ruangan jadi berantakan begini,” tegur mak cing sambil mencakar pelan Cingbu sebagai hukuman.
Cingbu makin yakin, mak cing bukan ibunya. Tak mungkin seorang ibu mencakar anaknya. Seharusnya diajak bermain dan diajar berburu.
“Jadi, buat apa saya menunggu sampai besar nanti? Saya akan cari mama saya saat ini juga,” katanya membulatkan tekad.
Cingbu lalu pergi meninggalkan mak cing dan saudaranya yang lain. Ia meloncat keluar lewat jendela yang terbuka. Di suatu tempat di dunia yang luas ini, ia akan menemukan ibunya.
Tiba-tiba seekor anjing yang sedang berada di halaman rumah tuannya, melihat cingbu. Anjing itu menggonggong dan langsung berlari ke arah cingbu.
Cingbu kaget dan meringkuk tak bergerak. Yang ini pasti bukan mamanya. Ia sama sekali tak menyangka, di dunia ini ternyata begitu banyak bahaya buat seekor anak kucingseperti dia. Di tengah ketakutan dan kebingungan itu, mendadak mak cing muncul. Dengan gagah berani mak cing berhadapan dengan anjing tersebut. Ia melengkungkan badannya dan menyeringai, memperlihatkan gigi yang tajam. Cakarnya yang runcing siap beraksi. Dalam pandangan cingbu, mak cing tampak seperti macan.
Sang anjing terkesima. “Serang, nggak ya?” pikirnya.
Ternyata ia tak berani menghadapi mak cing yang tampak sangat marah. Ia mengibaskan ekornya dan berbalik kembali ke tuan rumahnya. Mak cing segera mendekati cingbu dan membelainya dengan kasih penuh kasih sayang.
“Ngeong, ngeong….” Kata cingbu.
Lalu mendekati mak cing dan menciumnya.
“saya bangga, jadi anak mama,”

NAMA : AHMAD S.
3D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: