FABEL RAJAWALI

Di sebuah pulau kecil bersarang seekor Rajawali yang perkasa. Tubuhnya besar dan kokoh. Ia sanggup menerkam dan menerbangkan seekor kambing.

Rajawali : “Tiada makhluk lain seperkasa aku.”

Perkataan Rajawali itu didengar oleh seekor Camar yang kebetulan terbang didekatnya.

Camar : “Ah, belum tentu Rajawali !”
Rajawali : “Hai, apa katamu burung bonsai !”
Camar : “Jangan lekas marah kawan, di tengah laut sana ada makhluk yang lebih perkasa darimu. Dibanding dengannya kamu belum apa – apa.”
Rajawali : “Mana, tunjukkan makhluk yang melebihi keperkasaanku !”
Camar : “Baiklah, terbanglah ke selatan. Nanti kubuktikan siapa yang lebih besar dan lebih perkasa.”

Dengan cepat Rajawali terbang ke selatan. Camar mengikuti dari belakang. Setelah beberapa lama Rajawali merasa letih. Ia ingin beristirahat. Oleh karena itu, ia mencari – cari tempat untuk bertengger. Terlihat oleh Rajawali dua buah tiang yang tinggi menjulang. Rajawali menukik dan hinggap di salah satu tiang itu. Saat ia melepaskan lelah terdengar teriakan lantang.

Udang : “Hai, siapa yang bertengger disungutku ini ?”

Rajawali terkejut dan cepat – cepat melesat ke udara.

Rajawali : “Oh, sungguh makhluk hebat sungutnya saja seperti itu apalagi tubuhnya.”

Cepat – cepat ia kembali kepulaunya.

Udang : “Burung pengecut, baru digertak begitu saja sudah terbirit – birit. Kalau begitu, akulah makhluk yang paling perkasa didunia ini.” ( Kata udang dengan pongahnya )
Camar : “Ah, belum tentu kawan, masih ada makhluk yang lebih besar dari kamu.”
Udang : “Apa katamu ? ada makhluk yang lebih perkasa dariku ? mana tunjukkan padaku !”
Camar : “Baiklah mari kita buktikan di samudera sana.”

Si Udang dengan cepat berenang ke selatan. Lama – kelamaan ia merasa letih karena jarak yang ditempuhnya sudah cukup jauh. Kebetulan ditengah samudera ada sebuah benda seperti pulau.

Udang : “Sebaiknya ku beristirahat sebentar dipulau itu.”

Ternyata gua yang dimasuki si Udang adalah lubang hidung seekor ikan paus. Ketika si Udang menggesek – gesekan sungutnya yang keras ke dinding lubang hidung itu ikang paus merasa geli. Oleh karena itu, bersinglah si ikan paus. Si Udang terangkat dan terlempar ke luar. Setelah melayang di udara, ia terhempas di pulau karang. Rasa sakit menyengat punggungnya. Ternyata punggung si Udang patah.

Udang ; “Aduh, punggungku sakit sekali. Tolong, tolong, oh, tobat sakitnya.”

Melihat itu camar merasa kasihan. Di urut – urutnya punggung Udang yang malang itu. Selang beberapa hari si Udang sembuh dari sakitnya. Akan tetapi, punggungnya tidak dapat diluruskan kembali. Si Udang menjadi bongkok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: