FABEL TERJADINYA DANAU TOBA

Di Sumatra Utara ada daerah pegunungan yang kurang subur. Di sana pada zaman dahulu hidup seorang petani miskin. Setiap hari dia menggarap ladangnya. Bila sudah lelah mencangkul, dia pergi ke hutan mencari kayu bakar. Selain untuk kebutuhan sendiri, kayu bakar itu di jual ke pasar. Uangnya untuk membeli keperluan dapur, seperti garam, ikan asin, dan gula.
Pada suatu hari, petani yang masih bujangan itu malas pergi ke lading atau hutan.
“Aku sudah berkerja keras setiap hari. Mengapa aku tetap miskin? Tetangga didepan itu berkerja semaunya, tapi hidupnya enak…..” begitu gumam petani itu sambil berbaring-baring di dipan bambo di serambi rumahnya.
“Ah, lebih baik aku pergi memancing!”
Petani itu pergi ke sungai di dekat ladangnya. Dia duduk di atas sebuah batu besar. Memancing sambil melamun.
“Alangkah enaknya kalau aku jadi orang kaya. Punya istri cantik, banyak harta….”
Petani itu tiba-tiba terjaga dari lamunannya. Ancingnya di tarik ikan dengan kuat. Dia sentakkan pancingnya. Terlihat seekor ikan besar menggelepar. Sisiknya putih bagai mutiara yang gemerlapan memantulkan sinar matahari yang menerpanya.
“Petani sahabatku, janganlah kau bunuh aku!”
“Ha…! Ikan dapat bicara? Siapa kau sebenarnya?” Tanya petani itu dengan gagap.
“Jangan tanyakan siapa aku! Turuti kata-kataku dan kau akan dapat banyak berkah!”
“Bawalah aku ke ladangmu! Peliharalah aku di sana!”
“Baik…baik.”
Petani membawa ikan itu ke ladangnya. Di ladangnya ada mata air kecil yang membentuk kolam kecil. Ke dalam kolam itulah ikan itu dilepaskannya.
“Sahabatku, kau boleh menengok aku setiap hari. Syaratnya, tidak boleh waktu malam hari!”
“Baik…baik!” jawab petani masih agak gagap suaranya.
Selanjutnya petani itu pulang. Tapi, pikirannya terus melayang kepada ikan ajaib di ladangnya. Malam hari pun dia tak dapat tidur menjelang subuh, petani itu tak kuasa menahan hatinya. Dia pergi ke ladang.
Sesampainya di kolam, petani itu tak menemukan ikan ajaibnya. Tiba-tiba terdengar sapaan halus.
“Sahabatku, kau tak akan menemkan lagi ikan itu. Akulah ikan itu……,” sapa seorang putri cantik jelita.
Petani itu semakin heran. Ikan ajaib itu telah menjadi seorang putri.
“Ajaklah aku pulang! Jadikan aku istrimu. Hidupmu akan berkecukupan.”
“Baik….baik!” jawab petani itu senang.
“Tapi, ada satu syaratnya. Kau tak boleh menyebut asal usulku!”
“Aku terima syaratmu!”
Petani dan putri jelita itu akhirnya menikah. Mereka hidup bahagia dan berkecukupan. Mereka dikaruniai anak laki-laki yang tampan.
Waktu anak itu berusia sepulh tahun, dia sudah dapat membantu pekerjaan orang tuanya.
Pada suatu hari, anak itu mendapat tugas mengantar makanan siang. Di tengah jalan, dia bertemu dengan teman sebayanya. Mereka asyik bermain. Anak itu lupa waktu dan lupa tugasnya. Makanan yang di bawa, dia makan bersama kawannya.
Setelah makanan itu habis, baru dia sadar. Hari telah sore. Makanan itu jatah makan siang ayahnya. Cepat anak itu lari ke lading. Dia menceritakan apa yang dia lakukan. Ayah yang kelaparan itu sangat marah. Dia maki anaknya.
“Dasar anak ikan! Di mana otakmu. Ayo pergi! Tak sudi aku melihat tampangmu lagi!”
Anak itu lari ketakutan, pulang sambil menangis. Dia mengadukan makian ayahnya kepada ibunya. Ibunya cepat menyadari, kehidupannya akan segera berubah. Cepat ia memberikan peringatan kepada anaknya.
“Anakku, hentikan tangismu! Sebentar lagi akan datang hujan badai! Tempat ini akan jadi lautan! Selamatkan dirimu! Larilah ke gunung! Kamu anak laki-laki! Tempuhlah hidupmu sendiri…!”
“Pergilah! Sekarang!”
Anak itu cepat lari. Hujan badai dan halilintar menyambar-nyambar. Yempat itu cepat tenggelam. Air semakin bayak menggenang. Si ibu yang jelita itu berubah kembali menjadi ikan.
Genangan air yang semakin luas dan dalam itu akhirnya menjadi sebuah danau. Danau Toba yang kita kenal sekarang setiap malam purnama, ikan itu menjadi putri jelita. Putri jelita yang selalu merindukan putranya. Putri jelita yang selalu menyesali kekasaran suaminya.

NAMA :
ALAMUL HUDA

KELAS :
3E

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: