FABEL TIKUS

Si sebuah rumah hiduplah keluarga tikus yang bahagia mereka hidup damai. Dan tenteram tapi ada satu yang membuat mereka resah seekor kucing belang selalu memangsa mereka .
Pada suatu hari mereka mengadakan rapat untuk mengatasi kucing yang kurang ajar itu. Kemudian mereka berkumpul dan memulai rapat.

Kakek tikus : “Nah, saudara-saudara ! sudah hadir semua ?”
( Memperhatikan yang hadir satu-persatu )
Tikus jantan : “Adik saya minta izin, kek !”
Kakek Tikus : “Mengapa tidak hadir ?”
Tikus jantan : “Ia sakit, kemarin tidak makan. Ia tidak dapat keluar. Maksud saya ia tidak berani keluar dari liangnya sebab si kucing belang itu selalu menghadang di depan pintu, kek.”
Kakek tikus : “Kasihan dia ! Tapi tak apalah, asal apa yang menjadi keputusan rapay ini kau sampaikan kepadanya. Oke ?”
Tikus jantan : “Ya, kek !”
Kakek tikus : “Siapa lagi yang belum hadir ?”
Tikus muda : “Sudah hadir semua kek ? Kecuali Miki da Mika.”
Kakek tikus : “Kemana mereka ?”
Tikus muda : “Kucing yang ganas itu telah memakannya, kek.”
Kakek tikus : “Astaga ! Dua lagi di antara kita yang menjadi korban. Kucing jahanam !”
Semua : ( Berkata berebutan )
“Itu terlalu ! Sungguh terlalu ! bagaimana sekarang ?”
Tikus betina : “Apa yang harus kita perbuat, kek ? Kakeklah yang harus mencari jalan keluar!”
Kakek tikus : ( Memukul-mukul meja ) “Tenang ! Tenanglah dahulu ! Diam !” ( sambil memilin-milin kumis ) “Ya, marilah kita cari akal !”
Tikus betina : “Saya mau diam, kek. Tapi sekarang harus bertindakdemi keselamatan kami semua !”
Kakek tikus : “Ya, ya. Itulah sebabnya,malam ini kalian saya undang kemari. Kita bersama mencari jalan mengatasinya.”
Tikus muda : “Heh, heh ! Minggu yang lalu kita telah kehilangan empat orang teman. Minggu ini sepuluh lagi.” ( berseru kepala yang hadir ) “siapa telah membunuhnya ?”
Semua : “Kucing ! Kucing ! Kucing !”
Tikus muda : “Ya, siapa lagi kalau bukan kucing jahanam !”
Kakek tikus : “Saya tau itu ! Pembunuhnya adalah kucing ! lalu apa yang akan kita perbuat sekarang ?”
Tikus jantan : “( sambil mengacungkan jari ) “Saya punya usul, kek !”
Kakek tikus : “Apa usulmu, tikusjantan ?”
Tikus jantan : “Sebaiknya kita bersahabat saja dengan dia.”
Tikus muda : “Apa ? Bersahabat dengan dia ? Bersahabat dengan kucing ? Mana bisa bersahabat dengan musuh.”
Tikus betina : “Ya, memang benar, Tikus muda ! Itu tidak mungkin. Kita semua pasti akan dimangsanya. Putuslah kita semua.”
Kake tikus : ( berkata kepada tikus jantan ) “Kau dengar sendiri kata mereka. Semua tidak setuju. Apa kamu punya usul tikus betina ?”
Tikus betina : “Ya, kek ! Saya punya jalan keluar.”
Kakek tikus : “Bagaimana, coba katakan !”
Tikus betina : “Salah satu dari kita harus ditugaskan menjaga pintu. Selalu siap di depan liang.” (menunjuk ) “Di depan pintu masuk itu.”
Tikus muda : “ Ah, buat apa menjaga pintu. Siapa berani ? Dia pasti akan binasa oleh kucing buas itu !”
Tikus betina : “Sabar dulu, anak muda ! Saya belum selesai bicara.”
Kakek tikus : ( menukas ) “Ya, benar ! Kucing pasti akan memakan penjaga pintu. Kalau begitu tak usah kau lanjutkan usulmu !”
Semua : “Ya, ya, ya ……… itu pasti tidak mungkin. Kami tak mau menjadi penjaga yang konyol.”
Tikus betina : “Ah, kalau begitu terserahlah, bagaimana pendapat yang lain ?”
Tikus kecil : “Saya punya akal, kek !”
Tikus muda : “Kau anak kemarin sore ! Tahu apa ! Berlari saja belum bisa berlari cepat !
Kakek tikus : “Sebentar, tikus muda ! Bagaimanapun ia berhak mengajukan usul. Coba mendekatlah kemari. Katakan usulmu sayang !”
Tikus kecil : ( agak malu-malu ) “Begini, kek ! coba semua saja, dengarkan ! ( sekarang berbicara dengan tegas ) “Apa sebab kucing itu dapat menangkap kita dengan mudah ?”
Tikus muda : ( cepat-cepat menjawab ) “Sebab kita tidak mendengar waktu kucing datang !”
Tikus kecil : “Bagus ! kau memang pandai dan cakap !” ( semua yang hadir tertawa )
Tikus jantan : “Kaki kucing itu begitu lembut. Ia berjalan hati-hati hingga tak mengeluarkan suara.”
Tikus kecil : ( berkat kepada tikus jantan ) “Benar pendapat bapak. Nah, sekarang dengarkan baik-baik ! Inilah jalan yang sebaik-baiknya. Ikatkan bel atau giring-giring pada leher kucing itu sehingga bel itu dapat berbunyi dapat berbunyi sewaktu-waktu kucing bergerak.”
Semua : “Bagus ! Bagus ! Bagus ! Sungguh pandai anak kecil itu ! Setuju ! setuju !”
Tikus kecil : “Terima kasih, terimakasih kalau pendapat saya ini bisa diterima.”
Tikus betina : “Aku punya sebuah bel !”
Tikus muda : “Aku punya seutas tali. Boleh untuk mengikat bel itu !”
Kakek tikus : “Coba tenang ! Dengarkan dulu kataku ! Sebelum kita melangkah lebih lanjut, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan.” ( berkata perlahan-lahan ). “Siapa diantaramu yang bersedia mengikatkan bel pada leher kucing itu ? Kau bersedia, sayang ?” ( berkata pada tikus kecil )
Tikus kecil : “Saya belum memikirkannya, kek. Siapa yang sanggup memasang giring-giring ! Marilah kita pikirkan bersama !”
Semua : ( mereka saling memandang ) “Ya, ya, ….. ! Siapa sanggup ? Siapa berani memasangnya ? Siapa bersedia ?”
Kakek tikus : ( kepada tikus kecil ) “Katakan kepada kami,sayang ! Siapa sekiranya yang patut dan sanggup ?”
Tikus kecil : ( sambil menggelengkan kepala ) “Saya tidak tahu, kek ! oh…….. ! ( sedih )Yaa… saya tidak tahu !”
( semua yang hadir diam. Mereka saling memandang dan saling menyeringai )
kakek tikus : “Sayang, mengatakan memang mudah. Tidak semudah bagaimana harus melakukannya !” ( tiba-tiba terdengar kucing mengeong. Semua terkejut ) “Awas kucing dating !” ( tikus-tikus berlari pontang-panting. Rapat pun bubar tanpa suatu keputusan )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: