Perlukah Legalitas Dalam Berdakwah???

Dakwah n jihad fi sabilillah

Dakwah n jihad fi sabilillah

Berdakwah di dalam Islam merupakan kewajiban setiap muslim. Dakwah Secara lughawi berasal dari bahasa Arab, dakwah yang artinya seruan, panggilan, undangan. Secara istilah, kata dawah berarti menyeru atau mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, menyuruh berbuat kebajikan dan melarang perbuatan munkar yang dilarang oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya agar manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Namun apabila dakwah tersebut dikelola oleh suatu lembaga maka haruskah ada Legalitas? Legalitas merupakan tanda sahnya suatu lembaga berupa SK (Surat Keputusan) yang diberikan oleh lembaga tinggi di atasnya. Hal ini terjadi pada salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang ada di Universitas Lambung Mangkurat.
Kontroversi pun muncul ketika LDK (Lembaga Dakwah Kampus) mempermasalahkan legalitas yang dimiliki oleh FKDK (Forum Komunikasi Dakwah Kampus). Memang secara birokrasi tidak boleh ada dua UKM yang sama jenisnya berdiri di Universitas Lambung Mangkurat. Namun seperti yang kita tahu Islam itu satu, akan tetapi mengapa muncul NU (Nahdatul Ulama) dan Muhammadiyah? Begitu pula yang terjadi pada LDK dan FKDK, mereka mempunyai satu misi namun berbeda persepsi tentang visi di dalam cara menjalankan dakwah.
Kewajiban berdakwah sangat erat kaitannya dengan sifat personal masing-masing individu, sebab yang menjadi subjek sekaligus objek dakwah ialah manusia itu sendiri. Membentuk hati manusia merupakan hal yang sangat penting, agar sifat-sifat mulia masuk pada setiap diri manusia. Apabila sifat-sifat yang mulia ini masuk ke dalam diri manusia, mereka akan taat pada perintah Allah swt, dan akan meninggalkan seluruh larangan Allah swt. Namun kebalikannya jika hati tidak punya sifat-sifat mulia, manusia akan menjadi lebih “buas” daripada binatang.
Dahulu di kota Makkah kaum jahiliyah sangatlah buruk akhlaknya. Di tengah-tengah kejahilan kafir Quraisy, Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Sejak ia lahir sampai berusia 40 tahun tidak ada dakwah sehingga orang-orang kafir Quraisy belum berubah. Setelah berumur 40 tahun beliau diangkat menjadi Nabi. Sekembalinya dari Gua Hira, Nabi SAW mulai berdakwah di kota Mekkah. Lelaki pertama yang menerima dakwah beliau adalah Abu Bakar Shiddiq ra., Wanita yang pertama mengakui kerasulan Muhammad saw adalah istri beliau Khadijah r.ha. dan pemuda yang masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib.
Dengan berbagai pengorbanan, rintangan dan tantangan Rasulullah SAW dan para sahabat memulai dakwah ini. Mereka yakin dengan janji-janji Allah, menyandarkan hanya kepada Allah atas setiap permasalahan hidup. Yang pada akhirnya penduduk Mekkah dan Madinah tumpah ruah masuk Islam. Suasana dan keadaan tanah Hijaz Jajirah Arab berubah menjadi sumber hidayah ke seluruh alam.
Namun kenapa yang terjadi sepeninggal Rasulullah SAW kita semua terpecah belah dan malah menganggap perbedaan sebagai rintangan dan tantangan dalam berdakwah. Seharusnya perbedaan yang ada dapat memperkokoh ukhuwah Islamiyah di antara kita dan sebagai sarana untuk bertukar pikiran. Rintangan dakwah yang sesungguhnya ialah masuknya budaya Barat yang kemudian melebur ke dalam budaya asli ketimuran kita, sehingga menghilangkan nilai-nilai yang ada. Permasalahan itulah yang seharusnya dicari pemecahannya oleh para aktivis-aktivis dakwah, para ulama, dan da’i.
Jadi, pantaskah sekarang kita mempermasalahkan Legalitas dalam berdakwah??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: